Showing posts with label Islam. Show all posts
Showing posts with label Islam. Show all posts

Wednesday, 10 October 2012

NAHJUL BALAGHAH

Nahjul Balaghah adalah sebuah kitab susunan Sayid Syarif Radhi (Ulama terkemuka di bidang Sastra Arab dan Fiqih abad 4-H) yang berisi kumpulan khotbah, surat dan ucapan Ali bin Abi Thalib ra.

Khotbah-khotbah Ali bin Abi Thalib ra. dinilai dan dihormati sedemikian tingginya di dunia Islam, sehingga hanya dalam waktu seabad setelah wafatnya, khotbah-khotbah itu telah diajarkan dan dibacakan sebagai kata terakhir di dalam Filsafat Tauhid, sebagai ceramah-ceramah bagi pembangunan watak, sebagai sumber inspirasi yang luhur, sebagai khotbah-khotbah meyakinkan ke arah takwa, sebagai mercu penunjuk ke arah kebenaran dan keadilan, sebagai karya pujian yang menakjubkan tentang Nabi Muhammad (saw) dan Al-Quran al-Karim, sebagai pembicaraan yang meyakinkan tentang nilai-nilai spiritual Islam, sebagai diskusi-diskusi yang menakjubkan tentang sifat-sifat Tuhan, sebagai karya utama kesusastraan, dan sebagai model seni retorika dan keterampilan berbahasa.
Kitab Nahjul Balaghah memiliki beragam topik penting, meliputi problem-problem besar metafisika, teologi, fiqih, tafsir, hadits, profetologi, imamah, etika, filsafat, sosial, sejarah, politik, administrasi, hak dan kewajiban warga, sains, retorika, puisi, literatur, dll.

Beberapa nasehat indah Ali bin Abi Thalib ra. yang bisa dilihat di dalam kitab ini antara lain:

“Dalam masa kekacauan sosial, jadilah seperti unta remaja, yang tak berpunggung cukup kuat untuk ditunggangi dan tidak pula bersusu untuk diperah”

“Barangsiapa mengambil serakah sebagai kebiasaan, ia menurunkan harga dirinya sendiri; barangsiapa membeberkan kesukaran-kesukarannya, ia menyetujui penghinaan; dan barangsiapa memperkenankan lidahnya menguasai jiwanya, ia mengaibkan jiwanya.”

“Kekikiran adalah malu; sifat pengecut adalah cacat; kemiskinan menggagalkan lelaki cerdas membela kasusnya; orang melarat adalah orang asing di kotanya sendiri.”

“Ketidakmampuan adalah petaka; kesabaran adalah keberanian; zuhud adalah kekayaan; pengendalian diri adalah perisai (terhadap dosa); dan sahabat terbaik adalah penyerahan (kepada Allah).”

“Pengetahuan adalah harta yang patut dimuliakan; perilaku baik adalah busanan baru; dan pikiran adalah cermin yang jernih.”

Download di sini

KEUTAMAAN MEMBACA AL-QUR'AN


KEUTAMAAN MEMBACA AL-QURAN

Oleh: Ayatullah Jawadi Amuli
Penerjemah: Jawad Muammar



Orang yang membaca al-Quran akan mampu “melihat“ Allah Swt apabila ia telah mencapai rahasia bacaannya. Imam Ali as berkata: “Allah Swt menampakkan diri-Nya melalui kitab-Nya tanpa mereka mampu melihatnya.”[1] Allah Swt menampakkan diri-Nya melalui kitab-Nya tanpa terlihat. Imam as berkata: “Setiap hakikat terkandung dalam al-Quran, begitu pula kejadian-kejadian yang lampau dan yang akan datang. Al-Quran tidak menjawab ketika Anda bertanya kepadanya dan tidak menjawab ketika Anda mangajaknya berbicara, tetapi aku adalah orang yang berbicara dengan al-Quran, aku mengetahui rahasia-rahasianya dan akan menjelaskannya kepada Anda.”
Imam menjelaskan makna pembacaan al-Quran yang benar melalui ucapannya: “Allah Swt pemilik al-Quran ini telah menampakkan diri-Nya bagi hamba-hamba-Nya melalui kitab-Nya.”[2] Imam Shadiq as pun meriwayatkan makna yang sama dengan mengatakan: “Allah Swt ber-tajalli untuk hamba-hamba-Nya melalui ucapan-Nya, tetapi mereka tidak melihat-Nya.”
Imam Shadiq as senantiasa mengulang-ulangi sebagian ayat al-Quran: “Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan.”(al-Fatihah: 5) Atau ayat: “... yang menguasai hari pembalasan.”(al-Fatihah: 4) Dan Imam berkata:
 Sepertinya aku mendengar Allah berbicara.”
Ungkapan yang paling baik dan indah dalam pemikiran Islam adalah tajalla. Al-Quran dan hadis telah mengajarkan kepada kita makna dari istilah tersebut. Ketika Allah Swt ingin menurunkan hakikat keberadaan dari alam gaib ke alam ini, Allah berfirman: “Tajalla.” Kata tajalla berbeda dengan tajaafa. Diturunkannya al-Quran di bulan mulia ini dikatakan ibarat air hujan yang turun dari langit. Hujan yang turun secara tajaafa berarti hujan yang turun di satu tempat. Ia tidak turun di tempat lain. Ketika sesuatu berada di atas, maka ia tidak berada di bawah. Tatkala turun ke bumi, ia tidak berada di langit.
Tetapi sewaktu Allah berfirman: “Kami turunkan al-Quran di bulan Ramadhan,” apakah itu sama dengan turunnya hujan? Tatkala al-Quran bersama Kami, maka pada saat bersamaan, ia tidak bersama kalian. Dan sewaktu Kami menurunkannya kepada kalian, ia tidak lagi bersama Kami. Apakah turunnya al-Quran seperti itu? Demikian pula arti: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (al-Quran) pada malam kemuliaan.”(al- Qadar: 1) Dan apakah makna dari ayat: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran...,”(al-Baqarah: 185), seperti turunnya hujan?
Tidak, tidak demikian halnya. Al-Quran turun di bulan ini secara bertahap, secara berangsur-angsur atau tidak sekaligus, artinya bahwa hakikat yang ada pada Allah ini tetap ada pada Allah. Tetapi turun dalam bentuk kalam agar manusia dapat melafalkan, mendengarkan, menuliskan, dan membacanya. Al-Quran diturunkan secara tajalla dan bukan tajaafa.
Jika seorang mujtahid atau filosof ingin menjelaskan dan mengajarkan kepada orang lain mengenai satu hal yang bersifat logis atau suatu riwayat yang merupakan bagian dari pengetahuan Islam, yang benar-benar dipahaminya, maka itu dapat dikatakan bahwa: “Ia menurunkan untuk orang lain atau secara berangsur-angsur menurunkannya kepada mereka.” Proses penurunannya berlangsung secara berangsur-angsur dalam bentuk buku, tulisan, atau gelombang radio maupun gambar. Pemikiran atau makna ini tidak serta merta menjadikan pikirannya kosong melompong.
Demikian pula halnya dengan seorang mujtahid yang memberikan pelajaran-pelajaran fiqh dalam bentuk yang sederhana, sehingga dapat dipahami para mukalaf. Dalam proses pemberian pelajaran tersebut, keberadaan ruhnya yang tinggi tidak lantas menjadi kosong dari potensi ijtihad. Sebabnya, yang ia turunkan bukanlah potensi ijtihadnya, melainkan hakikat-hakikat yang dipahami manusia, yang diberikan secara berangsur-angsur. Inilah makna dari tanzil. Turunnya al-Quran dan hadis-hadis Ahlul Bait terjadi dalam bentuk seperti ini. Proses penurunannya bersifat tajalla.
Shahifah al-Sajjadiyah milik Imam Sajjad as yang merupakan “Zabur”-nya Ahlul Bait, harus diletakkan di samping al-Quran dan Nahj al-Balaghah.
Imam as-Sajjad as memiliki doa yang bernama Khatam al-Quran, yang umumnya dibaca orang seusai menghatamkan al-Quran. Sebuah doa yang menjelaskan tentang keagungan al-Quran dan pertemuan dengan berbagai berkah dan kebaikan sampai pada kalimat “malaikat kematian ber-tajalla karena ia menghilangkan hijab-hijab alam gaib dan mencampakkannya ke dalam lingkaran mimpi tentang kematian yang menakutkan.”[3] Malaikat kematian, Izrail, ber-tajalla di hadapan manusia dari balik alam gaib untuk mengambil ruh mereka. Ya Allah, pada hari itu, rahmatilah kami. Turunnya malaikat Izrail adalah tajalla Allah Swt.
Tajalla semacam ini terdapat dalam al-Quran (juga dalam Nahjul Balaghah), khususnya ketika berbicara tentang nabi Musa as: “Tatkala Tuhannya nampak bagi gunung itu.”(al-A’raf: 143) Dalam Nahjul Balaghah disebutkan[4] khusus tentang keagungan al-Quran. Imam Shadiq as juga meriwayatkan tentang keberadaan tempat khusus yang menjadi miliknya. Begitu pula dengan Imam Zainal Abidin yangmeriwayatkan khusus tentang Izrail, yang memiliki makna serta perumpamaan yang paling indah, yang membuat manusia tidak takut terhadap keberadaan alam gaib.
Jika ingin mengetahui apakah kita telah mencapai rahasia membaca al-Quran atau belum, harus diperhatikan apakah kita telah “menziarahi“ Allah melalui al-Quran dengan ruh kita? Apakah kita telah “melihat“ dengan mata hati, “pemilik“ kalimat-kalimat tersebut? Jika kita telah “melihat“-Nya, itu berarti kita telah sampai pada rahasia pembacaan al-Quran. Jika tidak, mungkin kita hanya mencapai tingkat hukum dan adab dalam membaca al-Quran, dan belum mencapai rahasianya.
Banyak sekali bab dalam kitab-kitab Imamiyah yang membahas tentang bacaan dan keagungan al-Quran; Seperti al-Kafi karya Syekh al-Kulaini ―semoga Allah meridhainya. Di dalamnya terdapat bab yang berjudul Keutamaan al-Quran, serta bab lain yang berjudul Keutamaan Membawa al-Quran. Orang yang membawa al-Quran akan dibangkitkan bersama para malaikat. Mereka tidak seperti kalangan Yahudi yang membawa kitab Taurat. Lagi pula, mereka bukan membawa Taurat. Berkenaan dengan orang Yahudi, Allah Swt secara khusus berfirman: “Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tiada memikulnya, adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal.”(al-Jumuah: 5)
Sebagaimana yang dikatakan dalam surat tersebut, kita menyaksikan betapa berbahayanya orang-orang Yahudi. Agar bahaya semacam itu tidak sampai menyebar ke tengah-tengah masyarakat Islam, Allah Swt berfirman dalam ayat: janganlah kalian memperlakukan al-Quran sebagaimana perlakuan orang-orang Yahudi terhadap Taurat. Mereka (orang-orang Yahudi, ―peny.) seolah-olah membawa Taurat, padahal sebenarnya tidak. Kami telah menganugerahkan kitab Taurat, namun mereka enggan mengambilnya (mcngamalkannya, ―peny.).
Orang yang membawa al-Quran memiliki keutamaan dikarenakan ia mengetahui maknanya dan mengerjakan hukum serta adab-adabnya, yang keseluruhannya dapat menghantarkannya pada rahasia al-Quran. Orang yang membawa al-Quran harus memiliki karakteristik sebagaimana yang termaktub dalam ucapan Imam Shadiq as: “Orang yang hafal al-Quran dan mengamalkannya akan dibangkitkan bersama para malaikat.”[5] Orang yang memahami dan mengamalkan al-Quran akan dibangkitkan bersama para malaikat dan orang-orang yang mulia.
Kemuliaan yang disebutkan al-Quran tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pada hari kiamat nanti, aspek batin al-Quran (yang dicapai seseorang yang telah menghafal dan mengamalkannya, ―peny.) akan menjadi jembatan yang menghubungkan barisan orang-orang mukmin, syuhada, dan para shalihin. Pada hari kiamat kelak, tcrdapat banyak sekali barisan yang terdiri dari orang-orang bertakwa, para shalihin, para Syuhada, ulama, dan sebagainya. Orang yang bercahaya akan melewati barisan-barisan tersebut, dan berkata kepada mereka: “Kami memahami ini (al-Quran, ―peny.) dengan sebaik-baiknya, ia bersama kami.”[6]
Dari Imam Shadiq as, Rasulullah saww bersabda: “Pemegang al-Quran adalah orang-orang yang mengetahui penghuni surga.”[7] Raut wajah dari orang yang memegang al-Quran akan jelas terlihat oleh seluruh penghuni surga. Orang yang menjumpai kesulitan dalam mempelajari al-Quran, tetapi mati menanggungnya, akan memperoleh pahala yang berlipat ganda. Adapun orang yang menghafal al-Quran dan mempelajari hukum-hukumnya tanpa merasakan keletihan dan kesulitan, hanya akan mendapatkan satu pahala. Karena itu, Imam Shadiq as berkata: “Orang yang mempelajari al-Quran dan menghafalnya dengan kesulitan akan mendapatkan dua pahala.”[8]
Diriwayatkan dari Imam Shadiq as: “Seyogianyalah bagi seorang muslim mempelajari al-Quran sebelum ia menemui ajalnya, atau ia mati ketika sedang mempelajari al-Quran.”[9] Tidak pantas bagi seorang mukmin yang menjumpai kematiannyadalam keadaan tidak memahami al-Quran. Sebabnya, ketika wafat, manusia akan berbicara dalam lisan al-Quran dan pembacaan talkin terhadap mayitnya akan menggunakan bahasa Arab. Aspek bathin dari amal dan upaya mempelajari al-Quran dari seorang Muslim yang wafat, akan muncul dan berbicara dalam bahasa Arab yang merupakan bahasa penghuni surga.
Seseorang boleh jadi bertanya, bagaimana mungkin nanti di dalam surga, seseorang berbicara dalam bahasa Arab, sementara itu bukan bahasa ibunya? Itu disebabkan bahasa penghuni surga akan sesuai dengan akidah yang dianutnya, dan lisan serta bentuk manusia akan nampak selaras dengan keadaan hatinya. Jika tidak, bagaimana mungkin sebagian manusia akan menjelma dalam bentuk binatang sementara sebagian lainnya dalam bentuk manusia? Sebagian manusia akan dibangkitkan dengan wajah yang hitam legam, sementara sebagian lainnya dengan wajah putih bercahaya?
Aspek bathinlah yang akan menyingkap bentuk dan bahasa ini, bukan aspek dhahir (lahiriah)nya. Akidahlah yang akan mengajarkan lisan kita untuk berbicara dalam bahasa Arab pada hari kiamat kelak. Di surga, setiap orang akan berbicara dalam bahasa Arab, di mana nabi Daud akan bertindak sebagai penceramah bagi seluruh penghuni di situ. Amirul Mukminin Ali as dalam kitab Nahjul Balaghah berkata: “Saudaraku, nabi Daud adalah orang yang akan berbicara dalam bentuk ceramah.”[10] Kualitas akidahlah yang akan menentukan seseorang ketika wafat, juga setelahnya. Orang yang meninggalkan dunia fana ini, dengan memeluk akidah Islam dan al-Quran, akan berbicara dalam, sekaligus memahami, bahasa Arab.
Amat disayangkan apabila seseorang menemui ajalnya sementara dirinya tidak mengerti bahasa Arab. Setiap orang (yang tidak mengerti, ―peny.) harus mempelajari bahasa Arab. Dan jihad yang dilakukan orang bodoh (tidak mengetahui) merupakan bagian dari jihad akbar. Sebagaimana orang yang berperang, orang yang berjihad menghadapi kebodohan dan seluruh kejelekan akhlak akan memiliki tiga perkara. Dalam kancah peperangan, resiko yang harus ditanggung, kalau bukan kerugian ―yang tentunya lebih besar dari kekalahan― maka seseorang akan memperoleh kemenangan, atau malah kematian. Tak ada pilihan lain di luar semua itu.
Bila seseorang takluk di bawah keinginan syahwatnya, maka ia akan terpenjara oleh hawa nafsu dan setan. Orang yang berkata: “Aku akan melakukan dan mengatakan apa yang aku sukai,“ pada dasarnya adalah orang yang telah mengalami kekalahan telak di medan perang dari musuh yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Kekalahan yang diderita berbentuk kejatuhan dirinya dalam perangkap kekufuran.
Apabila seseorang senantiasa berperang melawan keinginan dirinya, serta berusaha sekuat tenaga untuk tidak jatuh ke dalam perangkap perasaannya yang kerap mengajaknya untuk berbuat dosa, kemudian wafat dalam keadaan seperti ini, maka ia akan menjadi seorang syuhada yang memenangkan pcrtarungan melawan musuh yang ada dalam diri (jiwa)nya. Jika seseorang mengikuti perasaan jiwa atau keinginan akalnya, tentu tak akan ada sesuatu pun dalam dirinya yang bisa menyakiti atau menyiksanya. Orang seperti ini telah memenangkan jihad akbarnya.
Rasul saww mengisyaratkan dengan sabdanya: “Tak seorang pun dari kalian kecuali diikuti oleh setan.” Sahabat-sahabat bertanya: “Apakah Anda juga, ya Rasulullah?” Rasul saww menjawab: “Ya, tetapi Allah menjagaku darinya sehingga aku selamat dari godaan setan.”[11]
Apabila kita ingin mengetahui apakah diri kita telah keluar sebagai pemenang atau justru menjadi pecundang dalam sebuah peperangan, ditentukan oleh apakah kita telah menyerah kalah terhadap dosa-dosa kita ataukah tidak. Tak ada yang lebih hina dan lebih buruk dari dosa. Karenanya, Imam suci berkata: “Manusia harus memerangi kebodohannya, mempelajari Al-Quran, dan sungguh-sungguh belajar tentang bagaimana menghilangkan kebodohan.” Apabila seseorang menemui ajalnya dalam keadaan belajar, ia akan digolongkan sebagai orang yang mati syahid dalam peperangan.
Banyak riwayat menyebutkan: Jika orang yang sakit kemudian mati di peraduannya, sementara dirinya yakin terhadap Islam, ia akan digolongkan sebagai orang yang mati syahid. Sebab, ia tidak menyerahkan dirinya dihadapan hawa nafsu. Berkenaan dengan itu, Nabi bersabda: “Seyogianya seorang mukmin tidak wafat sampai dirinya telah atau sedang mempelajari al-Quran.”[12] Dengan demikian, seseorang harus terus menerus memerangi kebodohan sampai dirinya memperoleh kemenangan, atau kalaupun ajal keburu menjemputnya, minimal ia tidak sampai jatuh sebagai tawanan kebodohannya sendiri.
Apabila seseorang mempelajari al-Quran, kemudian melupakannya disebabkan kurangnya perhatian terhadap pelajaran yang dikandangnya, kemungkinan besar ia akan mendapat azab yang sangat menyakitkan. Banyak riwayat yang menyebutkan tentang hal tersebut.
Imam Shadiq as berkata: “Al-Quran merupakan amanat Allah untuk ciptaan-Nya, maka sepantasnyalah bagi seorang muslim untuk melihat amanat yang diberikan kepadanya dan membacanya 50 ayat dalam satu hari.”[13] Al-Quran adalah amanat Allah untuk manusia. Karenanya, sudah sepantasnyalah bagi manusia untuk melihat amanat ini siang dan malam, serta membacakan 50 ayat darinya. Imam Shadiq juga mangatakan: “Melihat al-Quran atau kalimat-kalimat Allah merupakan sebuah ibadah.”[14] Tidak seperti kitab-kitab lain, tak ada satupun yang bisa menyerupai kitab mulia tersebut. Kedati tidak mengetahui artinya, seseorang yang membacanya akan tetap mendapat pahala membaca. Itu disebabkan al-Quran merupakan kitab Allah. Tak seorangpun yang dapat berbicara seperti kitab ini.
Apabila membandingkan ayat-ayat al-Quran dengan isi Nahjul Balaghah yang terkenal, kita akan mendapatkan bahwasannya ayat-ayat al-Quran memiliki cahaya yang khusus. Kita tak mungkin menyetarakan kalimat-kalimat Imam dengan ayat-ayat Al-Quran. Ceramah-ceramah Nabi yang kita baca akan bercahaya apabila di tengah-tengahnya terselip ayat-ayat al-Quran. Ayat-ayat tersebut berbeda dengan sabda Rasul saww.
Al-Quran adalah tali Ilahi, sebagaimana firman Allah Swt: “...Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah.” (al-Imran: 103) Berpeganglah kamu semua kepada tali Allah yang merupakan kalam dan agama-Nya, dikarenakan ia menghubungkan kalian dengan atap kehidupan yang abadi. Jangan hanya diam di dasar lubang, namun berpeganglah dengan tali ini, dan membumbunglah ke atas, sebab sebagian dari tali yang menjulur ini berada di tangan manusia, sedangkan sebagian lainnya di “tangan“ Allah Swt. Setiap orang yang memegang sebagian tali Allah dan membahas ayat-ayat al-Quran akan berjumpa dengan Allah Swt.
Rahasia membaca al-Quran tercapai tatkala seseorang menduduki maqam di mana dirinya mampu melihat di tangan siapa bagian ujung dari tali yang terjulur dari tangannya. Dalam kondisi demikian, ia telah mencapai rahasia ibadah dan al-Quran. Sebaliknya, orang yang membaca al-Quran namun tidak mengetahui di tangan siapa bagian ujung tali itu digenggam, belum mencapai rahasia al-Quran.
Karena itu, para imam berkata: “Manusia wajib membaca al-Quran minimal 50 ayat dalam satu hari, agar ia tetap berhubungan dengan amanat Allah Swt. Dan untuk menjelaskan bahwa al-Quran adalah tali yang tidak putus, sebagian ada di tangan Allah dan sebahagian lagi ada di tangan manusia, setiap kali manusia melihat makna-makna al-Quran dan tafsimya maka pasti ada hal yang bisa dibahas dan diteliti.”
Imam Sajjad as berkata: “Ayat-ayat al-Quran merupakan khazanah. Ketika setiap khazanah disingkapkan, sepantasnyalah Anda melihat apa yang ada di dalamnya.”[15] Ayat al-Quran merupakan khazanah Ilahi yang tak akan pernah sirna. Setiap kali usai membaca satu ayat, sepantasnya Anda menjenguk ke dalam khazanah tersebut untuk menyaksikan apa yang ada di dalamnya. Tidak benar kalau dikatakan bahwa isi ayat-ayat tersebut hanya pengulangan semata, “...dikarenakan al-Quran bergerak laksana berputarnya matahari dan bulan.”[16] Sebagaimana keduanya menerangi kehidupan manusia pada waktu siang dan malam hari, demikian pula halnya dengan al-Quran. Ia menerangi jalan manusia, yang dipenuhi kesengsaraan serta cobaan-cobaan siang dan malam, menuju kebahagiaan. Orang yang berjalan di bawah terpaan cahayanya, tak akan menjumpai kesulitan dalam menjalankan berbagai amanat kehidupan.
Perlu dicatat, pemahaman para ahli tafsir terhadap ayat-ayat al-Quran berbeda-beda. Contohnya, sejumlah ahli tafsir mengatakan bahwa mudhof (disandarkan) dalam sebagian kalimat harus dibuang. Umpama dalam peristiwa yang berkenaan dengan saudara-saudara Nabi Yusuf. Ketika mereka mengajak Nabi Yusuf pergi namun tidak membawanya pulang kembali, ayahnya, nabi Ya’qub mempertanyakannya: “Apa yang kalian perbuat terhadap Yusuf.” Mereka pun menjawab: “...Dan tanyalah kepada (penduduk) negeri.”(Yusuf: 82) Sebahagian mufassir berpendapat bahwa maksud darinya adalah “Tanyalah kepada penduduk.” Alasan mereka, mudhofnya telah dibuang.
Sementara tafsir lain menyebutkan “Dan tanyalah (penduduk) negeri.” Maksudnya, tanyalah kepada negeri itu kalau memang ia (negeri tersebut, ―peny.) bisa berbicara dengan lisan dan Anda sendiri mengerti ucapannya. Dan pintu-pintu dan dinding-dinding negeri tentu akan menjawab pertanyaan anda. Tetapi pada kenyataannya, Anda tidak bisa bertanya kepada mereka. Dalam hal ini, keberadaan mudhof tidak di hilangkan. Bukankah pintu-pintu dan dinding-dinding bisa merasakan sesuatu? Bukankah ia akan bersaksi bagi kebaikan kita jika kita termasuk orang-orang yang baik, dan bersaksi jika kita termasuk orang-orang yang zalim? Bukankah bumi akan bersaksi bagi penghuninya?
Di sini jelas bahwa segala sesuatu akan memahami sesuatu. Bukankah Masjid akan memberikan syafaat dan mengeluh terhadap yang orang shalat di dalamnya? Terutama berkenaan dengan Hajar Aswad. Sebagian orang bersikeras dengan keraguannya tentang mengapa kita menerima hajar aswad atau menciumnya? Dalam pandangan orang tersebut, ia tak lebih dari sebongkah batu yang tidak dapat mendatangkan bahaya dan tidak memberikan syafaat, tak ubahnya batu-batu yang lain. Dengan yakin, orang tersebut mengatakan bahwa semua itu merupakan perbuatan bid’ah. Padahal para imam tidak menentang perbuatan yang dikatakan bid’ah tersebut (mencium Hajar Aswad, ―peny.). Dengan demikian, orang yang mengatakan bid’ah itu disebut sebagai pendusta.
Pada hari kiamat kelak, Hajar Aswad akan bersaksi dan mengeluh.
Apabila ia memang tidak mendatangkan bahaya dan tidak memberikan manfaat, lantas mengapa ia mesti bersaksi? Ia merupakan kekuatan Allah Swt di muka bumi. Dengan kata lain, ia merupakan tajalla (kekuatan) Allah Swt, bukan tajafi-Nya.[17]
Mengingat itu semua, para ulama irfan memiliki perasaan malu untuk berbuat dosa. Mereka berkata: “Segala sesuatu yang ada di jagat alam memiliki mata yang melihat apa yang kita lakukan ―kita dilihat― maka bagaimana kita bisa melakukan maksiat?” Inilah pendapat mereka tentang al-Quran. Ayat-ayat Al-Quran merupakan khazanah Ilahi yang tidak pernah kering hanya dengan satu tafsiran. Tatkala makna dari salah satu ayat al-Quran dipaparkan, pada saat yang sama, salah satu pintu khazanah Ilahi telah terbuka. Namun, bagaimanapun kalian berusaha mengurasnya, khazanah tersebut tak akan pernah kering.
Jika seseorang telah membaca al-Quran dengan baik, dan mencapai makna batinnya, maka rumah tinggalnya akan benderang laksana bintang- bintang. Rumah yang di dalamnya acapkali dibacakan al-Quran adalah rumah yang diselimuti bintang yang bercahaya benderang.[18] Malaikat akan melihatnya sebagaimana penduduk bumi melihat bintang-bintang yang bercahaya. Malaikat Izrail akan mengunjungi rumah tersebut sebanyak lima kali dalam sehari, yakni dalam waktu-waktu pelaksanaan shalat[19], demi mengetahui apa yang sesungguhnya dikerjakan sang penghuninya pada waktu-waktu tersebut.
Nabi saww bersabda: “Terangilah rumah kalian dengan bacaan al-Quran dan janganlah kalian jadikan rumah seperti kuburan, sebagaimana orang-orang Yahudi dan Nasrani yang sembahyang di Sinagoge dan Gereja dan melakukan pertukaran serta mengabaikan rumah-rumah mereka.”[20]
Keberadaan rumah dan kuburan tentunya amat berbeda. Namun, rumah yang dihuni sekelompok orang yang hidup bersama, yang tidak memiliki pengaruh keilmuan serta tidak berkhidmat untuk agama Islam dan kaum muslimin, pada hakikatnya adalah kuburan, dan penghuninya terdiri dari orang-orang yang telah mati.
Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan. Jadikanlah rumah kalian sebagai tempat yang menerangi kehidupan masyarakat. Janganlah kalian seperti orang Yahudi dan Nasrani yang tidak menyembah Allah di dalam rumah-rumah mereka sendiri, kecuali di Sinagoge dan Gereja pada waktu-waktu tertentu. Ibadah memang harus dilakukan di masjid, namun ibadah yang bersifat khusus dapat dilaksanakan di dalam rumah. 
Para imam berkata: “Jagalah tempat-tempat agama, masjid-masjid,mendapatkan pertolongan Allah.”
Imam Ali as berkata: “Orang yang keluar dari kelompok masyarakat akan menjadi santapan setan, sebagaimana kambing yang keluar dari kelompoknya akan menjadi santapan serigala.”[21] Begitu pula manusia yang keluar dari masyarakat dan tidak patuh terhadap tanggungjawab, shalat Jumat, dan shalat berjamaah, akan menjadi santapan setan. Orang yang meninggalkan kehidupan masyarakat dan hidup menyendiri tak ubahnya seekor kambing yang meninggalkan kelompoknya.
Seorang buta datang kepada Imam Ali as dan berkata: “Kadang- kadang ada seorang yang menuntunku ke masjid dan kadang-kadang tak ada yang menuntunku, maka apa yang harus saya lakukan?” Imam as menjawab: “Ambillah seutas tali dan ikatkanlah tali itu antara masjid dan tempat Anda bekerja atau rumahmu. Jika tidak ada orang yang menuntunmu, maka tali itulah yang akan menuntunmu ke arah masjid.”[22] Imam mewasiatkan kepada orang buta tersebut untuk memanfaatkan segenap sarana yang dapat menghantarkannya ke masjid.
Mengisolasi diri dari umat Islam dan kaum muslimin merupakan sikap dan tindakan yang sangat berbahaya. Mengikuti shalat berjamaah merupakan sebuah berkah. Orang yang memiliki hubungan dengan tempat ibadah sesungguhnya telah mcmbawa “masjid” ke dalam rumahnya. Bagaimana mungkin seorang Muslim membiarkan dirinya sepanjang siang dan malam tanpa membaca al-Quran di dalam rumahnya? Al-Quran memberikan pengaruh yang sangat kuat kepada orang yang membacanya, sehingga orang tersebut akan mengerjakan perintah-perintah-Nya.
Imam suci berkata: “Terangilah rumah-rumah kalian dengan membaca al-Quran.” Seperti apakah rumah tersebut? Sesuai dengan pernyataan al-Quran, rumah yang sejahtera adalah rumah yang menjadikan hati kalian bercahaya. Terangilah hati kalian dengan ayat-ayat al-Quran dan berusahalah untuk mengosongkan hati kalian dari apapun kecuali Allah Swt. Sebab, setiap nikmat yang diperoleh manusia bersumber dari keberkahan al-Quran. Orang yang membaca al-Quran tidak mungkin bersikap sombong. Dan rumah yang acap dibacakan ayat-ayat al-Quran akan memiliki kebaikan yang berlipat-lipat: “Terangilah rumah kalian dengan membaca al-Quran. Rumah yang banyak dibacakan ayat-ayat al-Quran adalah rumah yang memiliki banyak kebaikan.”[23]
Kadangkala, seorang anak terlahir dengan menyertakan banyak keberkahan bagi masyarakat. Manusia tidak jua mengerti, gerangan nikmat apakah yang ingin Allah berikan kepadanya. Imam Ali as berargumen dalam Nahjul Balaghah: “Janganlah kalian menjual murah diri kalian...,” yang kemudian dilanjutkan dengan argumentasi logis yang disampaikan berikut ini:
Prolog pertama: Apakah Nabi merupakan orang yang dermawan di sisi Allah atau tidak? Jawabannya: sosok Nabi merupakan ciptaan Allah yang paling baik dan paling mulia. Di sisinya tak ada kemuliaan, kebaikan, atau kedudukan, kecuali yang diberikan Allah kepadanya.
Prolog kedua: Kehidupan Nabi sangatlah sederhana. Nabi tidur dalam keadaan lapar ketika berada di syi’ib Abu Thalib. Jika memperoleh harta dari Khadijah, beliau segera mengeluarkannya untuk Islam, bukan untuk dirinya. Artinya, rasa lapar dirasakan Nabi sclama tiga tahun di syi’ib Abu Thalib.
Sesuai dengan perkataan Imam Ali as bahwa apabila kepemilikan harta merupakan sebuah kesempurnaan, bisa dikatakan bahwa Nabi tidak memiliki kesempunaan yang pantas untuknya dan Allah telah mengabaikannya, dan ini tidaklah benar. Padahal, Allah telah memuliakan Nabi-Nya dan tidak mengabaikannya. Ketahuilah bahwa jika Allah memberikan kekayaan kepada seseorang yang kemudian menjadi lupa kepada Allah Swt, maka Alah telah melupakan dan menghinakan orang tersebut. Sebabnya, ia telah memanfaatkan hartanya bagi sesuatu yang tidak jelas dan tidak berdasarkan pengetahuan agama yang benar.
Allah menyetarakan kedudukan orang-orang yang memiliki ilmu, pengetahuan, hikmah, dan tauhid dengan kedudukan para malaikat. Sedangkan orang-orang yang dikuasai nikmat makanan, minuman, dan sebagainya, disetarakan Allah dengan binatang. Dalam surat al-Imran, Allah Swt berfirman: “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia, yang menegakkan keadilan, ...malaikat, dan orang-orang yang berilmu.”(al-Imran: 17) Allah Swt menyatakan keesaan-Nya. begitu pula halnya dengan para malaikat dan ulama. Di sini disebutkan bahwa ulama dan orang-orang yang berilmu disejajarkan dengan dan duduk bersama para malaikat.
Adapun ketika Allah berbicara tentang materi, Allah Swt berfirman: “Kami perintahkan matahari untuk bersinar dan hujan untuk turun agar dapat mengairi bumi dan agar tanaman-tanaman kalian tumbuh. (Semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”(al-Nazi’at: 33) Dalam ayat ini, dikarenakan Allah berbicara tentang materi. maka keberadaan manusia disejajarkan dengan keberadaan binatang. Pada ayat yang lain, Allah Swt berfirman: “Makanlah dan gembalakan binatang-binatangmu.” Makanlah secukupnya dan berikanlah makanan yang memadai untuk binatang-binatangmu. Jika manusia makan melebihi kebutuhannya. sampai pada batas menjatuhkan kehormatannya, maka umurnya akan habis semata-mata untuk mencari dunia. Keadaan semacam ini jelas merupakan kerugian yang sangat besar. Para pengejar kehidupan duniawi merupakan sekumpulan orang berwatak buruk yang menghabiskan waktunya di meja-meja permainan dan kesenangan. Inikah yang disebut dengan standar kesempurnaan?
Mungkin saja terdapat sejumlah orang yang sepanjang hidupnya tidak memiliki harta. Dengan demikian, harta yang dihabiskan orang-orang kaya dalam permainan judi hanya dalam tempo semalam bukanlah sebuah kebanggaan. Harta yang dihabiskan melebihi kebutuhan Anda untuk menjaga kehonnatan din, hanya akan berdampak buruk bagi Anda.
Ini bukan berarti kita diperintahkan untuk duduk berpangku tangan dan tidak bekerja sama sekali. Allah Swt memerintahkan kita untuk tetap bekerja agar menjadi umat yang mandiri dan tidak bergantung kepada betas kasih orang lain. Namun jangan sampai hati kalian menjadi terikat kepada selain-Nya. Terhadap orang yang hatinya terikat kepada selain-Nya, Allah berfirman: “Di sisi-Ku, kamu dan binatang temakmu adalah sama saja.” Selanjutnya: “Makanlah dan gembalakanlah binatang- binatangmu.”
Setiap individu jelas harus berusaha dan terus memperbesar hasil produksinya demi memenuhi kebutuhan masyarakat Islam. Imam Ali as berkata: “Siapa saja yang menemukan air dan tanah tetapi miskin. Allah akan menjauhinya.”[24] Jika seseorang atau sekelompok orang memiliki air dan tanah yang cukup, namun tetap saja hidup miskin dan bergantung pada orang lain, maka Allah Swt akan menjauhkan rahmat-Nya. Bukankah ini merupakan himbauan kepada manusia agar mati bekerja dan berusaha? Tak ada hal lebih buruk ketimbang menganggur. Dan doa yang dipanjatkan orang yang menganggur tidak akan diterima oleh-Nya.
Inilah Islam yang menganugerahkan kebebasan bagi umat manusia serta meniupkan ruh kehormatan dan kemuliaan bagi setiap orang. Seorang petani berkata kepada Imam Ali as: “Kebun kami airnya sedikit sekali.” Maka Imam pun segera datang untuk mencari sumber air dan membuat sumur. Imam membawa cangkul dan mulai menggali. Tetapi Imam tidak kunjung mendapatkan sumber air. Keesokan harinya, Imam datang lagi ke tempat tersebut untuk mencari sumber air, dan kembali mencangkul, sampai nafas beliau terdengar begitu panjang lantaran mengalami keletihan. Tatkala memperoleh sumber air, Imam berkata: “Sumur ini adalah shadaqah.”
Apabila kita mengaku sebagai pengikut Ahlul Bait, kita harus menjalani kehidupan yang zuhud di dunia ini. Kita harus produktif dan aktif terlibat dalam kehidupan, sehingga kita tidak lagi memerlukan keberadaan orang-orang asing. Kebun yang paling baik adalah kebun yang airnya mengalir dari dan untuk kebun tersebut. Hadis ini sesungguhnya ingin mengatakan bahwa kedati kita diharuskan bekerja sehingga tidak memerlukan bantuan orang lain, namunjangan sampai kita menjadi tamak dengan apa yang ada di tangan sendiri.
Rasul saww bersabda: “Rumah yang dibacakan ayat-ayat al-Quran maka kebaikannya akan bertambah banyak, penghuninya akan tenteram, dan akan menerangi penghuni langit sebagaimana bintang-bintang di langit menerangi penghuni bumi.”[25]

Sumber: Rahasia-Rahasia Ibadah; Ayatullah Jawadi Amuli; Penerbit Cahaya, Bogor, Indonesia; Cetakan ke-1; Juni 2001 M.


[1] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-147.
[2] Mukadimah tafsir dinisbahkan kepada Muhyidin bin al-Arabi (lihat, juz 2, hal. 4). Lihat juga, Mulla Abdurraziq al-Kasani, Takwilaat, Tafsir surat “Al-Hamd”; juga Syaikh al-Baha’i, di akhir bukunya, Falah al-Sail.
[3] Al-Sahifah al-Sajjadiyah, dalam doa “Khatam al-Quran”.
[4] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-147.
[5] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan al-Quran”, hadis ke-2.
[6] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaanal-Quran”, hadis ke-1 dan 11.
[7] Ibid.
[8] Ibid.
[9] Ibid.
[10] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-160.
[11] Musnad Ahmad, juz 1, hal. 275, 375, 385, dan 460, serta hadis serupa dengan redaksi yang berbeda dalam kitab Jami’ al-Saqir, juz 2, hal. 75; Ghazali, Ihya al-Ulum, juz 2, hal. 21.
[12] Ushul al-Kafi, op. cit.
[13] Ibid.
[14] Ibid.
[15] Ibid.
[16] Ibid.
[17] Abu Abdillah berkata: “Umar bin Khatab melewati hajar aswad dan berkata: Demi Allah, wahai hajar, kami sungguh mengetahui bahwa engkau hanyalah batu yang tidak memberikan bahaya dan manfaat, tetapi kami melihat Rasulullah menciummu. Imam Ali kemudian berkata kepadanya: Bagaimana, wahai ibnu Khatab? Demi Allah, pada hari kiamat kelak Allah sungguh akan membangkitkannya dan ia memiliki dua lisan dan dua bibir serta ia bersaksi atas siapa yang mempercayainya. Ia adalah Amrullah di bumi-Nya yang dengannya ciptaan Allah membai’atnya. Umar berkata: Allah tidak akan membiarkan kita tinggal di satu wilayah yang di dalamnya tidak ada Ali bin Abi Thalib.’” Lihat, Ila al-Syara’i, Bab CLXI, hadis ke-8, hal. 246.
[18] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan Al-Quran”, topik yang berkenaan dengan keberadaan rumah-rumah yang di dalamnya senantiasa dibacakan al-Quran, hadis ke-3.
[19] Ad-Dilmy, Irsyad al-Qulub, Bab XIV, hadis ke-2.
[20] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan Al-Quran”, hadis ke-1.
[21] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-127.
[22] Wasail al-Syi’ah, juz 5, hal.377.
[23] Ushul al-Kafi, juz 2, Bab “Keutamaan al-Quran”, hadis ke-1.
[24] Wasail al-Syi’ah, juz 12, hal. 24.
[25] Bihar al-Anwar, juz 41, hal. 39, dan juz 42, hal. 71; Furu al-Kafi, juz 7, hal. 54; Wasail al-Syi’ah, juz 13; dan al-Waqf, Bab VI, hadis ke-2.


RAHASIA PENGABUL DOSA


RAHASIA PENGABULAN DOA

Oleh: Ayatullah Jawadi Amuli
Penerjemah: Jawad Muammar



Keutamaan malam lailatul qadar juga dimiliki siang hari. Kemungkinan jatuhnya malam lailatul qadar terjadi pada malam kesembilan belas dari bulan Ramadhan, yang bertepatan dengan syahidnya Imam Ali as.
Ketika Imam Ali as ditanya: “Berapa jarak antara langit dan bumi?” Imam as menjawab: “Sepanjang mata memandang dan doanya orang-orang yang dizalimi.”[1] Terdapat dua pengukur jarak antara langit dan bumi; pertama, pandangan mata, dan yang kedua, doa yang dipanjatkan orang yang dizalimi. Dengan begitu, jarak antara bumi dan langit sejauh kemampuan pandangan seseorang. Dengan kata lain, batas terjauh pandangan mata Anda ke langit tergantung pada kemampuan mata Anda. Pandangan ke langit yang dimaksud pernyataan di atas bersifat lahiriah. Adapun maksud dari pernyataan bahwa doa yang dipanjatkan orang yang dizalimi merupakan jarak antara langit dan bumi, berkaitan dengan rahasia serta aspek batin dari sesuatu yang terdapat di langit.
Sebagaimana kita ketahui bersama, segala sesuatu memiliki aspek lahiriah maupun batiniah. Begitu pula dengan keberadaan langit yang memiliki dua aspek; lahiriah maupun batiniah. Jarak lahiriah antara langit dan bumi adalah sejauh mata memandang. Mata seseorang bisa menembus ufuk dari langit ini. Namun, jarak yang membentang antara langit dan bumi juga memiliki aspek batin yang hanya dapat ditembus oleh perbuatan hati, bukan mata. Jarak antara langit dan bumi bisa ditembus oleh doa yang dipanjatkan orang yang dizalimi. Keluhan yang disampaikannya mampu mencapai batin langit serta segenap rahasianya.
Pengertian langit secara lahiriah terdiri dari bintang gemintang, matahari, dan rembulan. Sementara aspek batin darinya terdiri dari para malaikat yang sesungguhnya merupakan cahaya alam gaib. Di alam lahiriah, terdapat bintang-bintang yang memancarkan cahaya lahiriah, sementara di langit batin, para malaikatlah yang memancarkan cahaya, tentunya yang bersifat spiritual. Al-Quran berfirman: “Sesungguhnya pintu-pintu langit terbuka untuk semuanya, tetapi pintu-pintu ini tidak terbuka untuk orang-orang kafir dan orang-orang munafik, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit.”(al-A’raf: 40)
Aparat penanggung jawab kehidupan di langit adalah para malaikat. Allah Swt berfirman: “Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.” (Fushshilat: 12) Setiap lapisan langit memiliki urusan yang khusus, dan Allah memerintahkan malaikat melalui wahyu untuk bertanggung jawab terhadapnya.
Keberadaan langit memiliki aspek lahiriah yang memancarkan cahaya, yang juga bersifat lahiriah. Imam Ali as telah memotivasi kita ketika menjawab orang yang bertanya tentang berapa jarak antara bumi dan langit, baik dalam kategori lahiriah maupun batiniah yang merupakan rahasia keberadaan langit. Dalam hal ini, beliau berkata: “Sejauh mata memandang dan doanya orang yang dizalimi.”
Apabila seseorang menginginkan doa yang dipanjatkannya diterima dan mencapai realitas batin dari langit, ia harus memutuskan seluruh angan-angan dan hubungannya dengan selain Allah Swt. Doa seorang mukmin yang muwahhid pasti akan diterima Allah sesuai dengan batas ketauhidannya. Demikian pula halnya dengan doa yang dipanjatkan orang yang tidak memiliki kepercayaan kecuali kepada Allah Swt.
Doa dari orang yang dizalimi dan tidak menunggu pertolongan dari siapapun kecuali Allah Swt, pasti akan diterima. Dalam hal ini, terdapat dua kategori orang yang dizalimi. Pertama, orang yang dizalimi dan menunggu pertolongan orang lain, baik dari kerabat dan temannya maupun berdasarkan pada kedudukannya. Dengan demikian, ia akan menunggu pertolongan dari orang-orang terhadap kezaliman yang menimpanya. Orang seperti ini tidak bisa dikategorikan sebagai muwahhid.
Kedua, orang yang dizalimi, yang tidak bisa menghindar darinya, namun tidak mengharapkan pertolongan siapapun dan tidak menyandarkan dirinya kepada apapun kecuali kepada Allah Swt. Orang seperti ini akan menghadap Allah dengan sepenuh hati dan akan taat bulat-bulat kepada-Nya. Ia adalah seorang muwahhid yang akan ikhlas dalam berdoa. Dengan demikian, doa yang dipanjatkannya pasti akan diterima. Dikarenakan itulah, Imam Ali as berkata: “Jarak antara bumi dan langit adalah doanya orang yang dizalimi.”
Imam Sajjad as meriwayatkan dan ayahnya, Imam Husain as, yang menyatakan dalam wasiat terakhirnya: “Hati-hatilah engkau (jangan sampai) menzalimi orang yang tidak memiliki penolong kecuali Allah Swt.”[2]
Imam Sajjad as juga menyampaikan hal itu dalam wasiat terakhirnya kepada Imam Baqir as, yang berkata: “Ayahku (Imam Sajjad as, ―peny.) memanggilku di saat terakhir hidupnya dan berkata: Aku berwasiat kepadamu sama dengan yang diwasiatkan kepadaku.’”
Dikatakan Sayyid al-Syuhada (penghulu para syuhada), bahwa kedati setiap bagian dari kezaliman itu buruk, namun menzalimi orang yang tidak memiliki penolong kecuali Allah Swt lebih buruk lagi. Itu dikarenakan doa yang dipanjatkannya pasti diterima dan keluhannya pasti terdengar Allah Swt. Apabila kita mendoakan para pejuang Islam demi meraih kemenangan sesuai dengan cara berdoanya orang-orang muwahhid (orang yang bertauhid), maka doa kita pasti diterima.
Manusia harus memanjatkan doa yang mampu mencapai tempat dikeluarkannya perintah-perintah Ilahi, yakni arsy Allah Swt. Arsy merupakan kedudukan dari pemilik hari pembalasan duma dan akhirat, kedudukan yang menjadikan seluruh alam tunduk kepada-Nya. Inilah kedudukan yang disebut dengan arsy. Dan dikatakan bahwa sebagian kalbu insan merupakan arsy Allah, atau dengan kata lain memiliki hubungan yang eksklusif dengan arsy Allah.
Seseorang bertanya kepada Imam Shadiq: “Kenapa Ka’bah dinamakan Ka’bah?” Imam menjawab: “Karena memiliki empat dinding.” Ia kembali bertanya: “Mengapa memiliki empat dinding?” Imam menjawab: “Karena Bait Makmur (nama tempat) di langit memiliki empat dinding.” Ia bertanya lagi: “Kenapa ada empat dinding?” Imam menjawab: “Karena arsy Allah memiliki empat sisi.” Ia bertanya: “Kenapa ada empat sisi?” Imam menjawab: “Karena kalimat tauhid ada empat, Subhanallah, Walhamdulillah, Wala Ilaha Illallah, Wallahu Akbar. Asma’ al-husna bagi Allah kembali kepada empat kalimat tauhid, dari tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir yang semuanya bermuara pada pengesaan Allah, keagungan -Nya, kesombongan-Nya, yang semua itu adalah Subbubun Quddus.” Manusia menyucikan Allah Swt dengan kalimat-kalimat tersebut.
Sebagian orang berkunjung ke Makkah untuk menziarahi empat dinding tersebut dan secara lahiriah mereka telah menunaikan ibadah haji. Di antaranya, terdapat sejumlah orang yang hanya memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan Bait Makmur. Sejumlah lainnya memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan arsy Allah. Dan sejumlah lainnya, memiliki pengetahuan yang berhubungan dengan kalimat-kalimat sempurna ini. Orang-orang yang terakhir disebutkan adalah orang-orang yang telah mengetahui rahasia haji. Tidak semua orang yang melakukan tawaf di Ka’bah telah mencapai makna-makna semacam ini.[3]
Demikianlah jawaban Imam, bahwasannya Kabah dibangun berdasarkan Bait Makmur, arsy-nya Allah, serta kalimat-kalimat penyucian yang terdiri dari tauhid, tahmid, takbir, dan tasbih Allah Swt.
Pada hari kiamat kelak, tak ada keburukan yang melebihi perbuatan syirik. Apabila kita mampu lolos dari sergapan kesyirikan, maka kita memiliki harapan untuk meraih kesuksesan. Banyak di antara kita yang hatinya telah dirembesi dan menyimpan kesyirikan, tanpa mengetahui cara untuk mengenalnya, apalagi mengobatinya.
Kita acapkali menunaikan ibadah hanya berdasarkan pada kebiasaan belaka. Apakah dalam setiap pekerjaan, kita telah memutuskan pengutamaan kepada selain Allah? Ataukah kita semata-mata tidak meyakini pekerjaan atau diri kita sendiri? Mengapa di akhir surat Yusuf, Allah berfirman: “Dan sebahagian dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan selain-Nya).”(Yusuf: 106)
Ketika ditanya tentang makna ayat ini, Imam berkata: “Rahasianya adalah ketika manusia berkata seandainya tak ada fulan, maka ini tidak mungkin terjadi.” Dalam istilah yang umum, dikatakan bahwa Allah-lah yang pertama dan fulan yang kedua. Orang yang berbuat atau berbicara semacam ini bukanlah seorang muwahid, karena Allah berfirman: “Dialah yang awal dan yang akhir; yang dhahir dan yang bathin.” (al-Hadid: 3) Imam kemudian ditanya, kalau begitu bagaimana kita berbicara dan bagaimana mengistilahkannya? Imam menjawab: “Katakanlah, Allah Swt menolong kita.”
Dalam setiap hal, lihatlah selalu kepada pelaku yang hakiki. Allah Swt akan nampak dalam setiap pekerjaan, karena Dia adalah yang dhahir. Janganlah memberi tempat kepada selain-Nya. Terlebih dahulu, kita harus menyucikan dan membersihkan hati kita. Setelah itu, baru kita berdoa dan memohon kepada-Nya.
Imam Shadiq berkata: “Jika kalian ingin doa kalian diterima, maka putuskanlah harapan kepada selain Allah, putuskanlah agar hati kalian tidak hersandar kepada kekuatan manapun selain kekuatan Allah Swt, setelah itu mintalah kepada Tuhan kalian, maka ia pasti mengabulkannya.”
Alkisah, ada dua orang yang ingin pergi ke Makkah dan Madinah. Untuk itu, mereka pun ikut serta dalam rombongan kafilah yang akan pergi haji. Seketika itu, seseorang yang diperkirakan sebagai pemimpin rombongan mendatangi kedua orang tersebut dan berkata: “Kelihatannya kalian berdua orang Irak?” Mereka berdua menjawab: “Ya, kami adalah penduduk Kufah.” Ia kembali berkata: “Dari suku mana?” Mereka menjawab: “Kinanah.” Kemudian keduanya menjelaskan siapa diri mereka. Setelah itu, pemimpin rombongan menyambut keduanya dengan ramah. Lantas, keduanya balik bertanya: “Siapakah Anda?” Ia menjawab: “Aku adalah Sa'ad bin Abi Waqas.”
Kemudian ia berkata kepada keduanya: “Aku telah mendengar empat kalimat tentang Ali bin Abi Thalib, yang seandainya satu dari empat kalimat itu keluar tentang aku, maka ia lebih baik daripada dunia dan segala isinya walaupun dunia itu taat dengan perintahku dan aku memiliki umur seperti umurnya nabi Nuh tidaklah lebih aku cintai dari pada satu kalimat yang seandainya keluar tentangku dari kalimat-kalimat yang keluar tentang Ali bin Abi Thalib.” Mereka berdua kemudian bertanya: “Apakah isi kalimat-kalimat tersebut?
Sa’ad menjawab: “Yang pertama adalah ketika turun surat Taubah yang mengumumkan tentang bara’ah (berlepas tangannya) kaum muslimin dari orang-orang kafir, maka Nabi memberikan surat ini kepada Abu Bakar untuk disampaikan kepada penduduk Makkah dan ketika Abu Bakar berjalan beberapa lama, Nabi mengutus di belakangnya Ali bin Abi Thalib seraya berkata: ‘Ambillah surat itu darinya agar aku dapat mengirimkan kepada orang yang lebih berhak untuk menjalankan, tugas ini.’ Imam Ali pergi dan mengambil sural Bara’ah dari Abu Bakar dan membawanya kepada Nabi. Para sahabat bertanya: ‘Kenapa bukan Abu bakar yang menyampaikan surat ini kepada penduduk Makah?’ Rasul menjawab: ‘Malaikat Jibril datang kepadaku dari Allah Swt dan mengatakan bahwa tak ada yang bisa melakanakan tugas itu kecuali engkau atau seseorang dari bagianmu.”[4]Dan Ali adalah bagianku dan aku adalah bagian dari Ali.”[5] Maka hanya Ali-lah yang bisa menyampaikan surat ini dariku (maksudnya, Nabi saw, ―peny.) untuk orang-orang musyrik.
Makna pernyataan ini sama dengan yang ditujukan pada Imam Husain, ketika Nabi bersabda: “Husain adalah bagianku dan aku adalah bagian darinya.”
Abu Abdilah bin Jafar berkata kepada ayahnya Imam Shadiq: “Aku dan saudaraku Musa adalah sama. Ayah dan kakek kami satu[6], bukankah asalku dan asalnya satu dan ayahku dan ayahnya satu? Kenapa saudaraku Musa mencintai kedudukan ini? Ayah kami dan kakek kami satu?” Imam Shadiq kemudian menjawab pertanyaan anaknya tersebut: “Engkau adalah anakku sedangkan ia adalah jiwaku. Ada perbedaan antara engkau dan saudaramu, engkau adalah anakku dan saudaramu adalah dari ruhku, darimu nampak pengaruh dari badanku dan dari saudaramu nampak pengaruh dari ruhku, maka janganlah engkau katakan saya putra Imam Shadiq, karena kata ‘putra’ memiliki arti tertentu, dan kata ‘warisan kedudukan’ memiliki artiyang lain.”
Kesimpulannya, makna pernyataan yang disebutkan Rasulullah tentang Imam Husain bin Ali: “Husain adalah bagian dariku dan aku bagian dari Husain,” sama dengan makna pernyataan yang berkenaan dengan Imam Ali: “Ali adalah bagian dariku dan aku bagian dari Ali.”
Keutamaan kedua yang disebutkan Sa'ad bin Abi Waqas adalah sebagai berikut: “Kami semuanya sedang berada di masjid Madinah yang tidak beratap dan rumah-rumah yang berdampingan dengan masjid memiliki pintu yang langsung menyatu dengan masjid sehingga para penghuninya bisa tidur di dalam masjid. Pada suatu malam, datanglah perintah agar kami semuanya keluar dari masjid, kecuali keluarga Rasul dan keluarga Ali. Mereka semua memiliki hak untuk tetap tinggal di situ.
Kami semua keluar dari masjid dan pagi harinya, paman Nabi, Hamzah ―semoga Allah meridhainya― datang dan berkata: “Wahai Rasulullah, engkau mengeluarkan kami dan engkau tempatkan anak ini (maksudnya Ali bin Abi Thalib)[7], sedangkan kami adalah pamanmu dan dari keluarga besarmu.” Rasul berkata: “Bukan aku yang mengeluarkan Anda dari masjid dan bukan aku yang memperbolehkannya untuk tetap tinggal, tetapi Allah-lah yang memerintahkannya.” 
Ali bin Abi Thalib memiliki hak untuk tetap tinggal di dalam masjid dan mengunakan pintu rumahnya yang bisa menghantarkannya ke dalam masjid. Kedudukan macam apakah ini? Ketika Sayyidah Maryam hendak melahirkan, turunlah perintah agar dirinya keluar dari rumah Allah[8] yang merupakan tempat suci tersebut. Namun Allah Swt tidak memerintahkan Fatimah binti Asad, ibunda Amirul Mukminin, untuk keluar dari Ka’bah saat melahirkan. Hal ini tidak pernah terjadi selain kepada Amirul mukminin as.
Dalam doa Nudbah dikatakan: “Seluruh pintu ditutup kecuali pintu rumahnya,” seluruh pintu yang berdampingan dengan masjid ditutup kecuali pintu rumah Amirul M ukminin Ali, dan di sinilah letak rahasianya.
Keutamaan ketiga yang melekat pada diri Ali bin Abi Thalib, yang tidak dimiliki selainya adalah kejadian mendobrak pintu Khaibar. Suatu saat, Rasul mengirim sebagian sahabatnya untuk membongkar pintu Khaibar, namun mereka tidak sanggup melakukannya. Melihat itu Nabi pun marah dan bersabda: “Besok aku akan memberikan bendera kepada seorang laki-laki yang Allah dan Rasulnya mencintainya dan ia pun mencintai Allah dan Rasulnya, berani dan tidak takut akan peperangan dan kematian.”[9]
Dialah seorang laki-laki pemberani yang tidak pernah kecut hatinya oleh peperangan dan kematian. Ali berkata: “Aku tidak perduli, aku mati atau aku dibunuh.”[10] Beliau tidak pernah lari dari medan peperangan. Baju besi Amirul mukminin hanya menutupi sebatas dadanya saja, sementara punggung beliau terbuka dan tidak tertutup baju besi. Beliau berkata: “Aku tidak perlu menutupi punggungku dengan baju besi atau baju perang, karena aku tidak membelakangi musuh sehingga ia menyerangku dari belakang.”[11] Ini merupakan ucapan-ucapan Imam Ali yang sangat bernilai. Berkenaan dengan peperangan, Imam Ali berkata: “Janganlah kalian mengunakan perasaan.”
Dalam salah satu peperangan, sebagian prajurit tertawan oleh musuh. Kemudian sejumlah sahabat berkata kepada Imam Ali: “Berikanlah kami ijin agar kami dapat mengambil harta di baitul mal sehingga kami bisa membebaskan tawanan-tawanan dari tangan musuh.” Imam berkata: “Membebaskan tawanan itu sendiri adalah pekerjaan yang baik, tetapi jika kalian ingin membebaskan mereka, maka pertama-tama lihatlah kepada orang-orang yang terluka dan tebuslah mereka.[12] Orang yang mengangkat tangannya, menyerahkan dirinya, dan dibadannya tidak terdapat luka, ia telah kehilangan keberaniannya. Namun orang-orang yang terlukalah yang pantas untuk dibebaskan dari tahanan, karena mereka berperang sampai detik-detik kejatuhannya ke tangan musuh. Adapun tawanan-tawanan yang pungung-pungung mereka terluka, itu merupakan bukti bahwa mereka terluka dan kalah.”
Orang yang meninggalkan medan perang, sedikitpun tidak bermanfaat bagi kita. Ia tidak mengenal makna syahadah dan menyangka bahwa kematian merupakan kefanaan, sementara pula meyakini bahwa kehidupan dlinia lebih baik baginya. Ia tidak mengerti bahwa: “Kematian tidak lain kecuali jembatan yang akan kita lalui.”[13]
Alangkah indahnya bait-bait kalimat yang diungkapkan Imam Husain: “kematian merupakan jembatan yang di satu sisinya adalah dunia dan di sisi lainya adalah surga.” Jembatan ini dapat menghantarkan kalian menuju surga.
Imam memerintahkan: “Janganlah kalian membebaskan tawanan yang terluka dari belakang dan kalian jangan keluarkan harta baginya dari Baitul Mal, karena ia kalah dan meninggalkan medan perang dan kita tidak menyukai orang seperti ini, ia berkeyakinan bahwa kehidupan lebih baik daripada agama dan ia tidak memahami bahwa syahadah adalah surga dan di sinilah letak kebahagiaan.” Itulah sebabnya Rasul berkata tentang Imam Ali: “pemberani yang tidak takut sehingga Allah melalui tangannya memenangkannya, ia tidak akan pulang tanpa kemenangan dan membuka pintu Khaibar.”
Dalam surat yang ditujukan kepada Sabat bin Ranif al-Anshari, Imam Ali bin Abi Thalib mengatakan: “Aku tidak mencabut pintu Khaibar dengan kekuatan fisik atau kekuatan makanan tetapi dengan kekuatan malakut, jiwa dan dengan cahaya Allah yang menerangi.”[14] Kemampuan untuk mencabut pintu Khaibar bukanlah berasal dari makanan dan kekuatan fisik, tetapi dari kekuatan malakut yang diberikan Allah Swt.
Seluruh sahabat ingin mengetahui, siapakah yang dimaksud Rasul saww dengan ucapan dan sebutan ini. Pada suatu pagi, Rasul berkata: “Bawalah Ali bin Abi Thalib ke hadapanku.” Imam Ali datang menemui Rasul dalam keadaan sakit mata. Segera saja Rasul meletakan sedikit air ludahnya ke mata Imam Ali. Tak lama kemudian, mata beliau pun sembuh. Setelah itu, Rasul menyerahkan bendera kepada Imam Ali, yang kemudian pergi ke medan perang dan pulang dengan membawa kemenangan.
Keutamaan keempat yang dikatakan Saad bin Abi Waqas adalah: “Dalam perang Tabuk, tatkala Rasul pergi ke medan perang dan meningggalkan Imam Ali di Madinah sebagai khalifahnya untuk menjaga kota tersebut dari sergapan para musuh, sebagian orang malah memanfaatkan kesempatan ini dan menganggapnya sebagai titik lemah keberadaan beliau. Mereka mengklaim bahwa (dengan ketidaksertaannya dalam peperangan Tabuk, ―peny.) Imam Ali hanya ingin menjaga keselamatan dirinya. Mereka menyatakan bahwa Rasul tidak ingin Imam Ali ikut berpartisipasi dalam peperangan tersebut.
Ketika Imam Ali mendengar semua itu, beliau segera menemui Rasul dan berkata: “Aku tidak akan meninggalkanmu.” Setelah mengatakan itu, Imam Ali pun menangis. Kemudian, Rasul bertanya kepada beliau: “Mengapa engkau datang ke sini?” Imam menjawab: “Orang-orang Qurais berkata: Rasulullah tidak mengajak Ali bersamanya, karena beliau tidak suka Ali berpartisipasi dalam peperangan.’” Rasul mengatakan:
 Kumpulkan semua orang.” Maka, dipanggil dan dikumpulkanlah orang- orang tersebut. Setelah itu, Rasul bersabda: “Wahai sekalian manusia, apakah kalian memiliki keluarga yang khusus, Ali bin Abi Thalib adalah keluarga khususku dan orang yang aku cintai dari lubuk hatiku.”[15]
Kemudian, Rasul menoleh ke arah Ali bin abi Thalib dan berkata kepadanya: “Apakah engkau tidak ridha, engkau bagiku seperti kedudukan Nahi Harun dengan Nahi Musa, kecuali karena tidak ada lagi nabi setelahku, engkau wahai Ali adalah menteri dan Khalifahku, perhedaan antara aku dengan Nahi Musa adalah setelah Nabi Musa, ada nabi yang lain. Adapun setelahku tidak ada lagi nabi.”[16] Mendengar itu, Imam Ali lantas berkata: “Aku ridha kepada Allah dan Rasul-Nya.”
Ketika mengucapkan salam kepada Imam Mahdi as, kita mengatakan: “Salam bagimu, wahai sekutu al-Quran.” Kata ini berasal dari hadis dan bersandarkan pada al-Quran. Kata syarik yang merupakan bahasa arab, memiliki arti 'potongan kecil dari tali yang diikatkan ke daun pintu'. Kedudukan Imamah dan hakikat al-Quran merupakan dua buah pusaka yang sekaligus menjadi beban yang sangat berat. Dalam hal ini, Imam telah mengikatkan al-Quran dengan Imamah, begitupula sebaliknya, Imamah mengikat al-Quran. Dengan demikian, Imam menjadi syarik.
Dalam al-Quran disebutkan bahwa Nabi Musa berbicara dengan Allah, dengan mengatakan: “Ilahi, engkau letakkan di atas punggungku beban yang sangat berat, yaitu memerangi Fir’aun dan agar aku sukses dalam pekerjaan ini, maka saudaraku Harun, aku bawa sebagai sekutuku.”
Rasul berkata kepada Imam: “Engkau bagiku seperti Harun dengan Nabi Musa, sebagaimana Harun adalah sekutu Musa, maka engkau adalah sekutuku dalam risalah.” Dikarenakan risalah serta metode Rasul tak lain dari al-Quran itu sendiri, dan akhlaknya juga bersumber dari Al-Quran, orang yang menjadi sekutu Rasul juga akan menjadi sekutu al-Quran. Orang tersebut ibarat tali yang mengikat Imamah dengan hakikat wahyu. Karena itu, kita mengucapkan di hadapan Imam rnaksum: “Engkau adalah sekutu al-Quran.” Baik Imam Shohibuz zaman, ataupun para imam lainnya, secara keseluruhan merupakan sekutu al-Quran.
Imam Ali berkata: “Aku adalah al-Quran yang berbicara.”[17] Al-Quran tidak berbicara dengan kalian, tapi aku akan memberitahukan kepada kalian tentang berita-berita dalam al-Quran. Dengan begitu, beliau merupakan sekutu al-Quran.
Kita harus memandang Imam Ali berdasarkan pandangan yang agung dan mengenalnya dengan pengenalan yang seksama. Keempat bait kalimat yang indah ini memiliki pengaruh sebagaimana diungkapkan Sa’ad bin Abi Waqash: “Aku akan mengatakan kalimat yang kelima: Nabi bersabda dalam haji wada (perpisahan) ketika sampai di Ghadir Khum: Barangsiapa yang menjadikan aku pemimpin, maka Ali adalah pemimpinnya, ya Allah, tolonglah orang yang menolongnya, musuhilah orang yang memusuhinya, bantulah orang yang membantunya. dan tinggalkanlah orang yang meninggalkannya.’”[18]
Rasul tidak mengatakan bahwa Ali (maksudnya nama seseorang, ―peny.) adalah pemimpinnya. Sebab, besar kemungkinan orang-orang akan mengatakan bahwa banyak orang yang bernama Ali di dunia ini, termasuk dan di kota Madinah. Namun Rasul mengatakan: ‘Dengan ini, Ali (yang inilah, maksudnya sepupu Rasul sekaligus suami Sayyidah Fathimah, ―peny.) adalah pemimpinnya. Tuhanku, setiap orang yang masuk di bawah payung wilayah Ali, masukkanlah ke dalam wilayah-Mu dan setiap orang yang memusuhinya, musuhilah dia. Tuhanku, setiap orang yang menolong Ali, berilah pertolongan, dan setiap orang yang meninggalkan Ali, tinggalkanlah!

Sumber: Rahasia-Rahasia Ibadah; Ayatullah Jawadi Amuli; Penerbit Cahaya, Bogor, Indonesia; Cetakan ke-1; Juni 2001 M.


[1] Bihar al-Anwar, juz 10, hal. 88.
[2] Safinah al-Bihar, Bab “Washa”, juz 2, hal. 462; Ushul al-Kafi, Bab “Keazliman”, juz 2, hadis ke-5.
[3] Syaikh al-Saduq, Ila al-Syara’i, Bab CXXXVI, hadis ke-2, hal. 398.
[4] Syaikh al-Mufid, al-Amali, pertemuan ke-7.
[5] Ibid.
[6] Ad-Dilmy, Irsyad al-Qulub, hal. 296; Kamil al-Ziyarat, hal. 3; Mustadrak al-Hakim, juz 3, hal. 177; Ibnu Asakair, al-Tahzib, juz 4, hal. 314; Ibnu Hajar, Majma’ az-Zawaid, juz 9, hal. 181; al-Muhriqah, as-Sawaiq, hal. 115, Kanzu al-Ummal, juz 7, hal. 107.
[7] Syaikh al-Mufid, al-Irsyad; Safinah al-Bihar, kalimat ‘abada.
[8] Syaikh al-Mufid, al-Amali, pertemuan ke-7.
[9] Al-Kafi, Bab “Kelahiran Ali”, juz 1, hal. 453; Raudah al-Wajdzin; Sayyid Abdullah Syubbar, Jala al-Uyun, juz 1, hal. 248.
[10] Syaikh al-Mufid, al-Amali, petemuan ke-7.
[11] Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-55.
[12] Wasail al-Syi’ah, juz 11, Bab XXVIII tentang “Jihad terhadap Musuh”, hal. 65, hadis ke-3; Mustadrak al-Wasail, juz 2, hal. 255.
[13] Ma’ani al-Akbar, Bab “Makna Kematian”, hal. 288; Fa’db al-Kasyany, Umu al-Yaqin, juz 2, hal. 864.
[14] Bihar al-Anwar, juz 41-42, hal. 58.
[15] Ad-Dilmy, Irsyad al-Qulub; Qhazwah Khaibar, hal. 245; Khulu al-Ain, hal. 157; Syaikh al-Mufid, al-Irsyad, hal. 40.
[16] Syaikh al-Mufid, al-Amuli, pertemuan ke-7.
[17] Imam Ali berkata: “Itu adalah al-Quran, maka ajaklah ia berbicara dan ia tidak akan berbicara, tetapi aku akan memberitakan kepada kalian tentangnya, Ketahuilah bahwa di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan yang akan datang dan yang telah berlalu,. obat bagi penyakit kalian dan menjadi pengatur di antara kalian.” Lihat, Nahj al-Balaghah, Khutbah ke-158.
[18] Syaikh al-Mufid, al-Amali, pertemuan ke-7.